Sunday, July 03, 2005

Siapakah Namamu"?

Setiap kita pasti sering ditanya siapa nama kita, atau siapa kita. Tentu pertanyaan ini sangat mudah dapat kita jawab. Karena setiap kita pasti mengenal nama kita, atau identisas privat kita. Kita bisa katakan, "Nama saya Abdullah, atau Ahmad, atau Budi, atau Maryam, Asma; saya lahir hari dan tanggal...; saya anak Pak Pulan, saya seorang mahasiswa, aku seorang pengusaha atau atribut identitas yang mengitari kita lainnya.

Pertanyaan siapa identitas kita juga salah satunya ditanyakan oleh seorang ulama Mesir, Syekh Husaen Ya'qub.Tepatnya ketika ia menuliskan pendahuluan dalam bukunya, "al-Maziyah fi al-Iltizam," ia bertanya, "Man Anta," ma ismuka?" Siapa kamu, siapakah namamu, siapa sich sampean?

Kemudian ia melanjutkan tanda tanya tadi, "Aku tidak menginginkan jawabanmu, "Saya adalah Abdullah, nama saya Ahmad, aku bernama Aisyah, atau saya seorang mahasisiwa, aku seorang aktifis, aku penulis terkenal, aku Pak Haji, aku anak pengusaha sukses, aku anak pejabat ternama...atau nama kamu dan identitas kamu yang lain." Bukan itu jawaban yang ingin saya dapatkan, saya tak ingin dengar jawabanmu seperti itu.

Tapi, "Siapa nama kamu di sisi Allah, bagaimana identitasmu di sisi Sang Maha Kuasa? "Apakah kamu seorang muslim, atau orang kafir, kamu munafik atau kamu hanya muslim KTP atau muslim musiman? Atau kamu pembohong, kamu bernama orang yang senang menggunjing, kamu beridentitas yang suka mengado domba? Atau kamu yang bernama 'si putih' di hadapan orang dan 'si hitam' ketika sendirian? Kamu yang bernama si riya yang beramal karena ingin dipuji orang? Atau kamu yang beridentitas yang shalat tapi tidak berbekas dalam amalan, yang berzakat tapi menyakiti sesama, yang suka berpuasa tapi suka juga membiarkan tetanggamu puasa karena tidak ada makanan, kamu si haji yang hanya hanya demi prestise? Atau namamu sudah benar tercatat dalam daftar orang-orang yang ikhlas, yang gemar ibadah dan sebagai pejuang kemuliaan Islam dan umatnya, nama yang termasuk golongan sedang berjalan ke surga-Nya? Atau siapa nama kamu sebenarnya di sisi Allah? Kamu pasti tahu siapa kamu sebenarnya? Jawab, tolong jawab siapa kamu sebenarnya, siapa nama kamu dan bagaimana posisi identitasmu di sisi-Nya?

Demikian sang Syekh tadi terus bertanya, untuk mendobrak sisi kedalaman hati kita yang jujur dan mengerti siapa kita, siapa nama kita, bagaimana identitas kita atau nilai amal kita di sisi-Nya. Ia hanya ingin agar kita tidak hanya memperhatikan "identitas KTP" untuk administrasi dan keselamatan bernilai keduniaan, tapi kita juga harus memperhatikan administrasi untuk keselamatan dalam peraturan setelah kematian kita kelak. Selain itu ia hanya ingin agar kita benar-benar kembali mencamkan janji kita yang telah kita buat ketika sebelum lahir ke dunia ini, yaitu pernyataan, "Allah sebagai Tuhan kita, dan benar-benar menjadikan hanya Dia sebagai Tuhan kita, tanpa ada tuhan-tuhan kebendaan, keduniaan, ketenaran, nafsu binatang atau untuk nama kita di dunia. Juga agar kita benar-benar selaras dengan tujuan Dia menciptakan kita di dunia ini, untuk beribadah kepada-Nya, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku,hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".

Lalu kenapa kita merasa gundah dan tidak nyaman ketika nama kita, orang tua, keluarga kita atau identitas pribadi kita tercoreng, tidak baik di hadapan manusia, tapi kita masih bisa santai dan berjalan no problem ketika kita mengotori nama kita sebagai seorang muslim dengan bertindak tidak islami, atau kita tidak perhatian dengan nasib sesama kita, atau kita tampak beribadah kepada-Nya padahal hati kita mengakui saat itu juga adalah untuk mencari nama dan nilai di hadapan manusia, atau saat kita merusak ketuhanan Allah dengan menuhankan kebendaan, jabatan, atau nama dunia dengan menyalahi aturan Yang menciptakan kita?

Hanya kita yang tahu siapa kita, siapa nama kita di sisi Allah. Dan bersyukurlah bila masih ada kesempatan untuk memperbaiki nama dan identitas kita di sisi Allah SWT. Dan kesyukuran itu hendaknya disandingkan dengan bersegera untuk memperbaiki, memperindah atau merubah nama kita di sisi-Nya! Karena hanya kita sendiri yang bisa menuliskan nama kita di sisi-Nya. Dan jangan sampai "nama kita berubah", seperti akhir dari pesan Rasulullah saw. Kepada Ibnu Umar, "Jangan sampai ditunggu hingga namamu berubah!" Yakni, bila kita dikenal dengan nama si Fulan bin si Fulan, jangan sampai nunggu nama kita berubah jadi Si Fulan bin Fulan al-marhum, meninggal dunia.

Siapa nama kita ya?

Wallahu'alam

Kisah sebuah Wortel, sebutir Telur dan secangkir Kopi

Seorang gadis mengadu pada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul masalah baru.


Ibunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air dan direbusnya air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci ke dua,dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.


Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu.Wortel dikeluarkan dan diletakkannya di sebuah piring.Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. Sang ibu memandang putrinya sambil berkata :” Katakan apa yang kamu lihat.”Putrinya menjawab : “ Wortel, telur dan kopi.”


Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. “ Wortel itu menjadi lembek.” Ibunya kemudian meminta putrinya untuk memecahkan telur yang
telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar bahwa isi telur itu telah mengeras karena direbus.Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang. Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya. "Apa arti semua ini, ibu ?” tanya putrinya. Ibunya menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah melewati “Kemalangan” yang sama, yaitu direbus di dalam air mendidih. Namun tiap benda punya reaksi berbeda.


Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan “tidak berperasaan.” Namun setelah direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumnya rentan, mudah pecah.
Punya dinding tipis untuk melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah direbus, cairan di dalamnya menjadi keras. Sedang butiran kopi adalah fenomena
unik, ia menjadi air setelah direbus.


" Termasuk yang mana kamu, anakku ?” kata ibu pada putrinya. " Jika kemalangan mengetuk pintumu,bagaimana kamu meresponnya ? Apakah kamu seperti
wortel, sebutir telur atau biji kopi ?”





Camkan Hal ini :

Termasuk yang mana aku ini ? Apakah seperti wortel yang terlihat keras namun ketika dihadang masalah dan kemalangan aku menjadi lemah dan kehilangan
kekuatanku ?




Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika “di didihkan” oleh kematian, perpisahan, masalah keuangan atau ujian-ujian lainnya menjadikan hatiku kuat ? Apakah dinding luarku masih terlihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras ?

Atau aku mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawanya dalam kepedihan. Ketika air mulai mendidih,maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.

Bila keadaan menjadi kian memburuk, mampukah kalian mengubah situasi di sekitar menjadi suatu kebaikan ?Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat,
apakah kalian mengangkat diri sendiri ke tingkatan yang lain? Bagaimana kalian menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti ? Apakah kalian mirip sebuah wortel, sebutir telur atau biji kopi ?

Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar kalian lebih
manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat kalian mampu bertahan hidup.

Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyambut kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.

Dunia ini memang panggung sandiwara, kita dan semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah
seperti yang kita sangka. Kita hanyalah bayangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa,
berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya…..Subhanallah ~

Saturday, May 07, 2005

Female Do'a

Allah Yang Maha Pemurah,
terimakasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan saya dengannya.
Terimakasih untuk saat-saat indah yang boleh kami nikmati bersama.
Terimakasih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama.
Terimakasih untuk setiap saat-saat yang lalu.

Saya datang bersujud dihadapan-Mu, Sucikan hati saya yaa Allah,
sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidup saya.

Yaa Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya,janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya.
Janganlah biarkan saya melabuhkan hati saya di hatinya.
Kikislah pesonanya dari pelupuk mata sayadan usirlah dia dari relung hati saya.
Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni.
Tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Kau ciptakan dia untuk saya, yaa Allah,tolong satukan hati kami.
Bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya.
Berikan saya kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya.
Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah Kau ciptakan.
Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia.

Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doa saya ini.
Lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.Allah Yang Maha Kekal,
saya tahu Engkau senantiasa memberikan yang terbaik buat saya.

Luka dan keraguan yang saya alami pasti ada hikmahnya.
Pergumulan ini mengajar saya untuk hidup makin dekat pada-Mu,
untuk lebih peka terhadap suara-Mu yang membimbing saya menuju terang-Mu.

Ajarlah saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan.
Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak saya yang jadi dalam setiap bagian hidup saya, yaa Allah.

Amin....

CINTA

Leo F. Buscaglia, begitu namanya. Seorang professor pendidikan di University of Southren California, di Amerika. Ia seorang dengan seabreg kegiatan sosial dan ceramah-ceramah tentang pendidikan. Satu tema yang terus menerus dibawanya dalam banyak ceramah, adalah tentang cinta.

"Manusia tidak jatuh 'ke dalam' cinta, dan tidak juga keluar 'dari cinta'. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta," begitu katanya dalam sebuah ceramah.

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.

Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.

Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.

"Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.

"Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.

"Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Tuesday, April 26, 2005

selamat malam sayang...

Sayang…

Sebaik sahaja dirimu membuka mata dari tidur, bacalah doa
kesyukuran. Bersyukurlah kerana usiamu telah dipanjangkan Allah
dengan rahmayNya. Bersyukurlah kerana terselamat daripada kelalaian
dan kelemahan tidur. Dan insaflah bahawa hakikatnya, pintu taubatmu
masih terbuka. Dan ketahuilah bahawa tidur itu adalah pelajaran bagi
yang hidup merasai setengah kematian.

Melalui tidur, Tuhan telah mengajar kita mengingati kematian saban
hari. Melalui tidur, Tuhan mengajar kita hikmah mimpi. Dan adab-adab
tidur juga Tuhan tunjukkan kita melalui Nabi.oh betapa syumulnya
Islam, ia terbimbing dari hal yang sekecil-kecilnya hingga kepada
perkara yang sebesar-besarnya.

Sayang…

Berwudhu'lah sebelum tidur. Sesungguhnya Allah akan memelihara rohmu
disisiNya. Tetapi jika tidurmu tanpa wudhu', Tuhan tidak akan
memandang dikau dan membiarkan jin dan syaitan mengganggumu.
Akibatnya sayang akan terbuai mimpi-mimpi kosong yang tidak
berfaedah, malah menarik ke arah kekufuran. Pengaruh dari mimpi
sebegini berupaya mencorak perlakuanmu, jika dikau tidak mengetahui
sumber-sumbernya. Amatlah rugi jika ajal mendatangi kita ketika
sedang tidur dengan tidak berwudhu'. Roh kita akan terabai akibat
dari kelalaian kita sendiri.

Sayang…

Tidurlah di atas rusuk kanan dan menghadap kiblat. Mudah-mudahan
mimpimu dikurniakan hikmah kerana ia merupakan satu cara wahyu
diturunkan. Mimpi yang benar adalah mimpi yang diberkati Tuhanmu.
Selain itu adalah mimpi yang batil dari gangguan jin dan syaitan,
dan mimpi yang hambar terhasil dari panorama hidup seharian. Ingatan
terhadap mimpi adalah penerimaan fikiranmu mentafsirkannya.

Sekiranya dikau tidak biasa atau tidak percaya dan tidak dapat
menerima berita-berita ghaib sebagaimana dituntut oleh Al-Quran dan
As-Sunnah maka jadilah segala-galanya tidak bererti dan tidak
mendatangkan faedah dan pengajaran kepadamu. Jadikanlah mimpi
sebagai mimpi dan permainan tidurmu.

Sayang…

Tidurlah apabila merasai mengantuk. Dengan tidur anggota tubuh akan
dapat kerehatan dan tenaga akan pulih kembali. Usahlah dikau tidur
dengan berlebih-lebihan kerana perbuatan itu akan mengakibatkan
badan menjadi letih dan lesu. Akal fikiran akan menjadi lemah. Akan
tetapi, jangan pula sayang tidak tidur berpanjangan kerana dengan
berbuat demikian kewarasan fikiran akan hilang. Tidurlah sekadar
sebagaimana disyorkan Islam, ditunjukkan oleh Nabi s.a.w iaitu tidur
sebelum zohor dan selebihnya di siang hari menguruskan pentadbiran
dunia. Manakala, tidur sedikit di malam hari dan bangun
memperhambakan diri dari tengah malam hingga ke pagi. Inilah contoh
tidur yang ideal dan amalan manusia hamba yang mencari keredhaan
Tuhannya.

Sayang…

Jauhkan dirimu daripada amalan tidur dua kali di siang hari kerana
amalan itu adalah perbuatan syaitan. Hindarkan dirimu tidur terlalu
lama supaya tidak dikencingkannya. Dan janganlah tidur di siang hari
menjadi kemestian kerana tabiat ini akan mengeruhkan wajahmu dan
rezeki menjadi mahal. Berusahalah menjaga adab-adab tidur dan
elakkan dari menelentang, kaki bersilang atau tertiarap dan
mengangkat punggung. Tutuplah auratmu dan tidurlah di tempat yang
terselamat daripada fitnah. Berlindunglah kepada Allah, Insya Allah
dirimu akan mendapat berkat.

Sayang…

Ingatlah bahawa masalah tidur sering dianggap remeh temeh dalam
hidup ini, tetapi pada hakiktnya ia adalah jurang yang dalam yang
berupaya mengakibatkan dirimu hidup tak terancang, hilang matlamat
dan hilang punca. Sesungguhnya jurang ini telah dimanfaatkan oleh
musuh yang menjadikan panduan hasrat dan dengkinya dengan sumpahan
cela.

Ketahuilah sayang…

Bahawa syaitan telah bersumpah dengan tiga perkara. Selagi makhluk
Allah yang bernama manusia melakukannya, selagi itulah pintu
kesesatan terbuka luas dan mudah bagi mereka memperdaya : iaitu

Pertamanya keinginan untuk makan,
Keduanya keinginan terhadap
perempuan dan
Ketiganya keinginan untuk tidur di mana selama mana
Ktiga-tiga keinginan ini terus subur dalam diri manusia maka selagi
itulah tidak ada kegagalan untuk syaitan menyesatkan manusia. Kita
semua tidak akan terselamat kerana itu adalah sifat dan ciri-ciri
manusia. Kita hanya terselamat jika didikan Rasulullah dalam hal-hal
berkaitan kita amalkan. Itulah kurniaan Allah kepada kita, hamba
yang mencari keredhaanNya. Maka bersyukurlah sayang dan jangan
sekali-kali menyombong diri…