Siapakah Namamu"?
Setiap kita pasti sering ditanya siapa nama kita, atau siapa kita. Tentu pertanyaan ini sangat mudah dapat kita jawab. Karena setiap kita pasti mengenal nama kita, atau identisas privat kita. Kita bisa katakan, "Nama saya Abdullah, atau Ahmad, atau Budi, atau Maryam, Asma; saya lahir hari dan tanggal...; saya anak Pak Pulan, saya seorang mahasiswa, aku seorang pengusaha atau atribut identitas yang mengitari kita lainnya.
Pertanyaan siapa identitas kita juga salah satunya ditanyakan oleh seorang ulama Mesir, Syekh Husaen Ya'qub.Tepatnya ketika ia menuliskan pendahuluan dalam bukunya, "al-Maziyah fi al-Iltizam," ia bertanya, "Man Anta," ma ismuka?" Siapa kamu, siapakah namamu, siapa sich sampean?
Kemudian ia melanjutkan tanda tanya tadi, "Aku tidak menginginkan jawabanmu, "Saya adalah Abdullah, nama saya Ahmad, aku bernama Aisyah, atau saya seorang mahasisiwa, aku seorang aktifis, aku penulis terkenal, aku Pak Haji, aku anak pengusaha sukses, aku anak pejabat ternama...atau nama kamu dan identitas kamu yang lain." Bukan itu jawaban yang ingin saya dapatkan, saya tak ingin dengar jawabanmu seperti itu.
Tapi, "Siapa nama kamu di sisi Allah, bagaimana identitasmu di sisi Sang Maha Kuasa? "Apakah kamu seorang muslim, atau orang kafir, kamu munafik atau kamu hanya muslim KTP atau muslim musiman? Atau kamu pembohong, kamu bernama orang yang senang menggunjing, kamu beridentitas yang suka mengado domba? Atau kamu yang bernama 'si putih' di hadapan orang dan 'si hitam' ketika sendirian? Kamu yang bernama si riya yang beramal karena ingin dipuji orang? Atau kamu yang beridentitas yang shalat tapi tidak berbekas dalam amalan, yang berzakat tapi menyakiti sesama, yang suka berpuasa tapi suka juga membiarkan tetanggamu puasa karena tidak ada makanan, kamu si haji yang hanya hanya demi prestise? Atau namamu sudah benar tercatat dalam daftar orang-orang yang ikhlas, yang gemar ibadah dan sebagai pejuang kemuliaan Islam dan umatnya, nama yang termasuk golongan sedang berjalan ke surga-Nya? Atau siapa nama kamu sebenarnya di sisi Allah? Kamu pasti tahu siapa kamu sebenarnya? Jawab, tolong jawab siapa kamu sebenarnya, siapa nama kamu dan bagaimana posisi identitasmu di sisi-Nya?
Demikian sang Syekh tadi terus bertanya, untuk mendobrak sisi kedalaman hati kita yang jujur dan mengerti siapa kita, siapa nama kita, bagaimana identitas kita atau nilai amal kita di sisi-Nya. Ia hanya ingin agar kita tidak hanya memperhatikan "identitas KTP" untuk administrasi dan keselamatan bernilai keduniaan, tapi kita juga harus memperhatikan administrasi untuk keselamatan dalam peraturan setelah kematian kita kelak. Selain itu ia hanya ingin agar kita benar-benar kembali mencamkan janji kita yang telah kita buat ketika sebelum lahir ke dunia ini, yaitu pernyataan, "Allah sebagai Tuhan kita, dan benar-benar menjadikan hanya Dia sebagai Tuhan kita, tanpa ada tuhan-tuhan kebendaan, keduniaan, ketenaran, nafsu binatang atau untuk nama kita di dunia. Juga agar kita benar-benar selaras dengan tujuan Dia menciptakan kita di dunia ini, untuk beribadah kepada-Nya, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku,hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".
Lalu kenapa kita merasa gundah dan tidak nyaman ketika nama kita, orang tua, keluarga kita atau identitas pribadi kita tercoreng, tidak baik di hadapan manusia, tapi kita masih bisa santai dan berjalan no problem ketika kita mengotori nama kita sebagai seorang muslim dengan bertindak tidak islami, atau kita tidak perhatian dengan nasib sesama kita, atau kita tampak beribadah kepada-Nya padahal hati kita mengakui saat itu juga adalah untuk mencari nama dan nilai di hadapan manusia, atau saat kita merusak ketuhanan Allah dengan menuhankan kebendaan, jabatan, atau nama dunia dengan menyalahi aturan Yang menciptakan kita?
Hanya kita yang tahu siapa kita, siapa nama kita di sisi Allah. Dan bersyukurlah bila masih ada kesempatan untuk memperbaiki nama dan identitas kita di sisi Allah SWT. Dan kesyukuran itu hendaknya disandingkan dengan bersegera untuk memperbaiki, memperindah atau merubah nama kita di sisi-Nya! Karena hanya kita sendiri yang bisa menuliskan nama kita di sisi-Nya. Dan jangan sampai "nama kita berubah", seperti akhir dari pesan Rasulullah saw. Kepada Ibnu Umar, "Jangan sampai ditunggu hingga namamu berubah!" Yakni, bila kita dikenal dengan nama si Fulan bin si Fulan, jangan sampai nunggu nama kita berubah jadi Si Fulan bin Fulan al-marhum, meninggal dunia.
Siapa nama kita ya?
Wallahu'alam