Sunday, July 03, 2005

Siapakah Namamu"?

Setiap kita pasti sering ditanya siapa nama kita, atau siapa kita. Tentu pertanyaan ini sangat mudah dapat kita jawab. Karena setiap kita pasti mengenal nama kita, atau identisas privat kita. Kita bisa katakan, "Nama saya Abdullah, atau Ahmad, atau Budi, atau Maryam, Asma; saya lahir hari dan tanggal...; saya anak Pak Pulan, saya seorang mahasiswa, aku seorang pengusaha atau atribut identitas yang mengitari kita lainnya.

Pertanyaan siapa identitas kita juga salah satunya ditanyakan oleh seorang ulama Mesir, Syekh Husaen Ya'qub.Tepatnya ketika ia menuliskan pendahuluan dalam bukunya, "al-Maziyah fi al-Iltizam," ia bertanya, "Man Anta," ma ismuka?" Siapa kamu, siapakah namamu, siapa sich sampean?

Kemudian ia melanjutkan tanda tanya tadi, "Aku tidak menginginkan jawabanmu, "Saya adalah Abdullah, nama saya Ahmad, aku bernama Aisyah, atau saya seorang mahasisiwa, aku seorang aktifis, aku penulis terkenal, aku Pak Haji, aku anak pengusaha sukses, aku anak pejabat ternama...atau nama kamu dan identitas kamu yang lain." Bukan itu jawaban yang ingin saya dapatkan, saya tak ingin dengar jawabanmu seperti itu.

Tapi, "Siapa nama kamu di sisi Allah, bagaimana identitasmu di sisi Sang Maha Kuasa? "Apakah kamu seorang muslim, atau orang kafir, kamu munafik atau kamu hanya muslim KTP atau muslim musiman? Atau kamu pembohong, kamu bernama orang yang senang menggunjing, kamu beridentitas yang suka mengado domba? Atau kamu yang bernama 'si putih' di hadapan orang dan 'si hitam' ketika sendirian? Kamu yang bernama si riya yang beramal karena ingin dipuji orang? Atau kamu yang beridentitas yang shalat tapi tidak berbekas dalam amalan, yang berzakat tapi menyakiti sesama, yang suka berpuasa tapi suka juga membiarkan tetanggamu puasa karena tidak ada makanan, kamu si haji yang hanya hanya demi prestise? Atau namamu sudah benar tercatat dalam daftar orang-orang yang ikhlas, yang gemar ibadah dan sebagai pejuang kemuliaan Islam dan umatnya, nama yang termasuk golongan sedang berjalan ke surga-Nya? Atau siapa nama kamu sebenarnya di sisi Allah? Kamu pasti tahu siapa kamu sebenarnya? Jawab, tolong jawab siapa kamu sebenarnya, siapa nama kamu dan bagaimana posisi identitasmu di sisi-Nya?

Demikian sang Syekh tadi terus bertanya, untuk mendobrak sisi kedalaman hati kita yang jujur dan mengerti siapa kita, siapa nama kita, bagaimana identitas kita atau nilai amal kita di sisi-Nya. Ia hanya ingin agar kita tidak hanya memperhatikan "identitas KTP" untuk administrasi dan keselamatan bernilai keduniaan, tapi kita juga harus memperhatikan administrasi untuk keselamatan dalam peraturan setelah kematian kita kelak. Selain itu ia hanya ingin agar kita benar-benar kembali mencamkan janji kita yang telah kita buat ketika sebelum lahir ke dunia ini, yaitu pernyataan, "Allah sebagai Tuhan kita, dan benar-benar menjadikan hanya Dia sebagai Tuhan kita, tanpa ada tuhan-tuhan kebendaan, keduniaan, ketenaran, nafsu binatang atau untuk nama kita di dunia. Juga agar kita benar-benar selaras dengan tujuan Dia menciptakan kita di dunia ini, untuk beribadah kepada-Nya, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku,hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".

Lalu kenapa kita merasa gundah dan tidak nyaman ketika nama kita, orang tua, keluarga kita atau identitas pribadi kita tercoreng, tidak baik di hadapan manusia, tapi kita masih bisa santai dan berjalan no problem ketika kita mengotori nama kita sebagai seorang muslim dengan bertindak tidak islami, atau kita tidak perhatian dengan nasib sesama kita, atau kita tampak beribadah kepada-Nya padahal hati kita mengakui saat itu juga adalah untuk mencari nama dan nilai di hadapan manusia, atau saat kita merusak ketuhanan Allah dengan menuhankan kebendaan, jabatan, atau nama dunia dengan menyalahi aturan Yang menciptakan kita?

Hanya kita yang tahu siapa kita, siapa nama kita di sisi Allah. Dan bersyukurlah bila masih ada kesempatan untuk memperbaiki nama dan identitas kita di sisi Allah SWT. Dan kesyukuran itu hendaknya disandingkan dengan bersegera untuk memperbaiki, memperindah atau merubah nama kita di sisi-Nya! Karena hanya kita sendiri yang bisa menuliskan nama kita di sisi-Nya. Dan jangan sampai "nama kita berubah", seperti akhir dari pesan Rasulullah saw. Kepada Ibnu Umar, "Jangan sampai ditunggu hingga namamu berubah!" Yakni, bila kita dikenal dengan nama si Fulan bin si Fulan, jangan sampai nunggu nama kita berubah jadi Si Fulan bin Fulan al-marhum, meninggal dunia.

Siapa nama kita ya?

Wallahu'alam

Kisah sebuah Wortel, sebutir Telur dan secangkir Kopi

Seorang gadis mengadu pada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul masalah baru.


Ibunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air dan direbusnya air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci ke dua,dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.


Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu.Wortel dikeluarkan dan diletakkannya di sebuah piring.Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. Sang ibu memandang putrinya sambil berkata :” Katakan apa yang kamu lihat.”Putrinya menjawab : “ Wortel, telur dan kopi.”


Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. “ Wortel itu menjadi lembek.” Ibunya kemudian meminta putrinya untuk memecahkan telur yang
telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar bahwa isi telur itu telah mengeras karena direbus.Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang. Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya. "Apa arti semua ini, ibu ?” tanya putrinya. Ibunya menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah melewati “Kemalangan” yang sama, yaitu direbus di dalam air mendidih. Namun tiap benda punya reaksi berbeda.


Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan “tidak berperasaan.” Namun setelah direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumnya rentan, mudah pecah.
Punya dinding tipis untuk melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah direbus, cairan di dalamnya menjadi keras. Sedang butiran kopi adalah fenomena
unik, ia menjadi air setelah direbus.


" Termasuk yang mana kamu, anakku ?” kata ibu pada putrinya. " Jika kemalangan mengetuk pintumu,bagaimana kamu meresponnya ? Apakah kamu seperti
wortel, sebutir telur atau biji kopi ?”





Camkan Hal ini :

Termasuk yang mana aku ini ? Apakah seperti wortel yang terlihat keras namun ketika dihadang masalah dan kemalangan aku menjadi lemah dan kehilangan
kekuatanku ?




Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika “di didihkan” oleh kematian, perpisahan, masalah keuangan atau ujian-ujian lainnya menjadikan hatiku kuat ? Apakah dinding luarku masih terlihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras ?

Atau aku mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawanya dalam kepedihan. Ketika air mulai mendidih,maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.

Bila keadaan menjadi kian memburuk, mampukah kalian mengubah situasi di sekitar menjadi suatu kebaikan ?Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat,
apakah kalian mengangkat diri sendiri ke tingkatan yang lain? Bagaimana kalian menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti ? Apakah kalian mirip sebuah wortel, sebutir telur atau biji kopi ?

Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar kalian lebih
manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat kalian mampu bertahan hidup.

Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyambut kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.

Dunia ini memang panggung sandiwara, kita dan semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah
seperti yang kita sangka. Kita hanyalah bayangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa,
berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya…..Subhanallah ~